
Tangerang — Dalam dinamika hubungan, baik perempuan maupun laki-laki memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan perasaan dan mempertahankan prinsip. Namun para konselor keluarga menilai bahwa salah satu penyebab terbesar retaknya hubungan adalah ketika salah satu pihak merasa tidak dihargai.
Sebagian kalangan menilai bahwa perempuan kerap merasa benar dalam mempertahankan argumennya. Namun di sisi lain, laki-laki pun memiliki prinsip kuat terkait harga diri dan kehormatan. Ketika mereka merasa direndahkan, diremehkan, atau tidak dipahami, banyak laki-laki memilih menjaga jarak, bahkan meninggalkan hubungan tersebut.
“Dalam banyak kasus, bukan persoalan siapa yang benar atau salah, tetapi soal bagaimana setiap pihak merasa dihargai,” ujar seorang pemerhati keluarga di Tangerang. Menurutnya, laki-laki yang memiliki prinsip kuat cenderung menarik diri ketika merasa martabatnya disentuh atau direndahkan, sementara perempuan sering kali tidak menyadari hal tersebut karena fokus pada pembelaan diri.
Pakar komunikasi hubungan juga menegaskan bahwa masalah seperti ini sering muncul karena minimnya dialog terbuka. Ketika komunikasi berubah menjadi saling mengoreksi tanpa empati, hubungan menjadi rentan pecah.
“Setiap pihak butuh dihormati. Harga diri laki-laki sama pentingnya dengan perasaan perempuan. Keduanya harus berjalan beriringan,” jelasnya.
Fenomena ini kembali mengingatkan pentingnya kesadaran emosional dalam hubungan. Penguatan komunikasi, saling memahami karakter pasangan, dan menghindari kata-kata yang menjatuhkan menjadi langkah utama menjaga keharmonisan.
(Handri .Muhammad)
