SIARAN PERS

HUMPROPUB – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor, Eka Wardhana, menghadiri kegiatan Workshop Bogorku Bersih yang digelar di Ruang Paseban Sri Baduga, Balaikota Bogor, pada Selasa (14/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Eka Wardhana menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas konsistensi gerakan Bogorku Bersih yang terus konsisten digulirkan.
Menurutnya, program ini bukan lagi sekadar ajang kompetisi lingkungan, melainkan telah berevolusi menjadi sebuah peradaban baru dan identitas kerakyatan dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kota Hujan.
”Persoalan sampah di Kota Bogor adalah tantangan nyata yang terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya populasi penduduk. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Paradigma lama yang hanya mengandalkan pola ‘kumpul, angkut, lalu buang’ ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harus segera kita tinggalkan,” tegas Eka Wardhana.
Guna menjawab tantangan tersebut, Eka menekankan dua fokus utama yang harus dijalankan secara simultan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.
Fokus pertama adalah pentingnya melakukan radikalisasi pengurangan sampah langsung dari hulu.

Eka memaparkan bahwa kunci utama keberhasilan penanganan sampah bukan terletak di TPA, melainkan bermula dari tingkat rumah tangga, perkantoran, dan titik-titik awal di mana sampah itu diproduksi.
“Kunci suksesnya ada di dapur rumah kita masing-masing, di meja-meja kantor kita, dan di hulu tempat sampah itu diproduksi. DPRD Kota Bogor sendiri terus mendorong penguatan regulasi dan kebijakan anggaran yang berpihak pada pengelolaan sampah berbasis komunitas,” ujar Eka.
Ia menambahkan, pengurangan sampah di sumbernya dapat dicapai melalui gerakan reduksi, pemilahan sampah organik dan anorganik secara disiplin, serta memaksimalkan peran Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di tingkat kelurahan.
“Jika kita berhasil menahan dan mengelola sampah di hulu, kita telah menyelamatkan masa depan lingkungan kota ini sebesar lima puluh persen,” lanjutnya.
Fokus kedua, kata Eka, perlunya sikap realistis dan visioner dalam menghadapi sampah residu yang tidak bisa diolah di hulu.
Kota Bogor saat ini tengah bergerak maju melalui rencana pembangunan infrastruktur teknologi ramah lingkungan, yaitu Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Teknologi PSEL merupakan solusi modern yang akan mengubah beban masalah sampah menjadi aset energi yang bermanfaat. Melalui workshop ini, saya meminta seluruh elemen masyarakat, khususnya para kader yang hadir hari ini, untuk menjadi perpanjangan tangan informasi dalam mensosialisasikan PSEL,” pintanya.
Eka menerangkan bahwa edukasi publik sangat penting agar masyarakat memahami bahwa PSEL bukanlah sekadar pabrik pembakar sampah biasa, melainkan sebuah sistem pengelolaan terintegrasi dan ramah lingkungan.
Keberhasilan teknologi ini pun sangat bergantung pada konsistensi pemilahan sampah dari rumah.
”PSEL akan berjalan optimal jika sampah yang dikirim sudah terpilah dengan baik dari rumah,” terangnya.
Maka dari itu, Eka menegaskan komitmen DPRD Kota Bogor sebagai lembaga legislatif untuk selalu mengawal, memberikan dukungan regulasi, dan memastikan anggaran pengelolaan lingkungan hidup tetap menjadi prioritas utama daerah.
Namun, ia mengingatkan bahwa regulasi terbaik pun akan lumpuh tanpa adanya partisipasi aktif masyarakat.
”Mari kita jadikan workshop hari ini sebagai momentum nyata untuk menyatukan langkah. Kurangi sampah dari rumah kita, dukung penuh inovasi teknologi PSEL, dan mari bersama-sama membawa Kota Bogor menuju kota yang benar-benar bersih, hijau, dan berkelanjutan,” pungkas Eka Wardhana.. ( Amrn/ Wmm / Red )
