
Depok,suarajabarmembangun.com—-RATUSAN Pedagang Tradisional Pasar Agung binaan Dinas Perdagangan dan Perindus
trian (Disdagin) Kota Depok, mengeluhkan sepinya pengunjung.
Sebanyak 350 pedagang yang menjual berbagai bahan kebutuhan pokok sehari-hari di pasar tradisional utama di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok tersebut, meminta Pemkot mencari solusi supaya konsumen lebih gairah lagi mendatangi pasar ini seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Nanang, pedagang sayuran di lapak tempat dia berjualan di lantai dasar.
Ia mengeluhkan sepinya pengunjung terlebih di hari Senin sampai Jumat, pengunjung hanya bisa dihitung pake jari.
Akibat sepinya pembeli, banyak pedagang menutup lapaknya dua jam lebih awal dari biasanya.
“Kami buka pukul 5.00 (pagi) dan tutup pukul 18.00 (sore), namun akibat sepinya pembeli terpaksa kami tutup dua jam lebih awal dari biasanya, hanya Sabtu dan Minggu sedikit lebih ramai dari biasanya,” terang Nanang, Kamis (24/9/2026).
Selain sepinya pengunjung, di perparah mahalnya barang- barang dagangan yang di pasok dari petani akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Hal ini sangat membebani keuangan mereka.
“Hampir tiap hari sepi pengunjung ke tempat ini, untuk jual Cabe 3 Kg saja sangat sulit kita pasarkan dan belum tentu dalam dua hari bisa habis, apalagi jenis sayuran yang mudah layu hanya bisa bertahan satu hari.,” kata Nanang memelas.
Ia mengatakan, untuk mengimbangi agar tidak terlalu besar kerugian yang ditimbulkan, terpaksa harus mengurangi belanja setiap jenis dagangan.
“Kami terpaksa harus mengurang belanja barang setengah dari biasanya, walaupun untung sedikit, yang penting bisa dapur ngebul dan bisa bayar retribusi pasar, listrik dan air,” ucapnya.
Sementara itu, Mega pedagang pakaian di Los Lantai dua juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan rata-rata Ia hanya dapat menjual 2 hingga 5 potong per harinya.
“Sudah sejak april lalu terasa sepi, mungkin masyarakyat bukan lagi mengutamakan pakaian tetapi mengutamakan pangan untuk bertahan hudup,” imbuhnya.
Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Agung, Raden Hermawan mengatakan, Pasar Agung sedang mengalami minimnya pengunjung akibat berbagai faktor terutama mahalnya komiditi pangan yang di pasok dari tengkulak yang sering memainkan harga, sehingga pedagang lebih memilih tutup dari pada merugi.
“Harga barang yang sering berganti-ganti dari tengkulak memaksa pedagang menutup lapaknya. Mereka kan tidak mau merugi,” paparnya.
Ia mengaku Pasar Agung saat ini mengalami kemun duran soal pencapaian target retribusi PAD akibat lesunya pengunjung ke Pasar Agung. Target PAD Disdagin Kota Depok untuk pasar ini mencapai Rp900 Juta/Tahun, alhasil tidak dapat tercapai. Hampir semua pasar di Depok tak sanggup memenuhi target PAD.
Ia menambahkan lesunya pengunjung ke Pasar Agung karena masyarakyat lebih dimanjakan banyaknya pesanan- pesanan via online yang dinilai lebih cepat dan efisien. Jadi konsumen lebih banyak berbelanja dari pasar-pasar moderen yang menjual produk yang sama dengan harga murah.
“Ini menjadi tantangan bagi kami untuk melindungi para pedagang agar tetap eksis berjualan di pasar agung ini, kami akan mencari formulasi yang tepat dengan Disdagin Kota Depok sebagai solusi akhir,” Pungkasnya. (Umpasa Rajagukguk)
